Penyebaran Islam di Kalimantan Selatan

Proses penyebaran Islam di Kalimantan Selatan akan berpusat pada seorang pewaris sah kerajaan Negara Daha yang bernama Raden Samudera. Ia dinobatkan menjadi Raja Banjar oleh Patih Masih, Muhur, Balit dan Kuwin. Patih Masih hanyalah sebuah gelar bagi pemimpin dalam sebuah kelompok. Pada masa ini patih belum termasuk dalam struktur birokrasi kerajaan. Nama sebenarnya Patih Masih tak diketahui. Istilah Patih Masih berasal dari istilah Oloh Ngaju, yakni sebutan untuk orang Melayu atau Oloh Masi. Patih Masih tak lain dari Patih yang memerintah orang-orang Melayu.

Proses penyebaran Islam di Kalimantan Selatan secara terang-terangan dimulai dengan kontak antara Pangeran Samudera dengan Kerajaan Demak. Pada saat itu, Pangeran Samudera meminta bantuan pasukan ke Demak untuk berperang melawan pamannya, Pangeran Tumenggung dalam merebut tahta kekuasaan Negara Daha. Pada saat itu, ia menghadapi bahaya yang berat yaitu kelaparan di kalangan pengikutnya. Atas usul Patih Masih, Pangeran Samudera meminta bantuan kepada Demak yang merupakan kerajaan terkuat setelah Majapahit. Dalam hal ini, Patih Balit diutus menghadap Sultan Demak dengan membawa 400 penggiring dan 10 buah kapal.

Setibanya di Demak, Patih Balit langsung menghadap Sultan Demak Trenggana dengan membawa sepucuk surat dari Pangeran Samudera. Surat tersebut ditulis dalam Bahasa Banjar dengan menggunakan Huruf Arab-Melayu yang berbunyi sebagai berikut:

“Salam sembah putera andika Pangeran di Banjarmasin datang kepada Sultan Demak. Putera andika menantu nugraha minta tolong bantuan tandingan lawan sampean karena putera andika berebut kerajaan lawan parnah mamarina yaitu namanya Pangeran Tumenggung. Tiada dua-dua putera andika yaitu masuk mengula pada andika maka persembahan putera andika intan 10 biji, pekat 1.000 galung, tudung 1.000 buah, damar 1.000 kandi, jerangan 10 pikul dan lilin 10 pikul”.

Ada dua hal yang menarik dalam surat tersebut. Pertama, penggunaan bahasa Arab-Melayu dalam penulisannya. Menurut A. Basuni dalam makalahnya pada Prasaran Seminar Sejarah Kalimantan Selatan berjudul Usaha Menggali Sejarah Masuknya Islam di Kalimantan Selatan pada 1976 mengatakan bahwa huruf Arab telah dikenal oleh Pangeran Samudera yang menunjukkan bahwa masyarakat Islam telah lama terbentuk di Banjarmasin. Lahirnya kepandaian membaca dan menulis huruf Arab memerlukan waktu yang cukup lama. Kedua, besarnya pemberian yang diberikan kepada Sultan Demak tentunya memerlukan penyandang dana yang sangat besar guna membeli semua barang tersebut. Dalam hal ini, kemungkinan besar Patih Masih adalah saudagar kaya yang mempunyai akses dalam perdagangan ke pedalaman Kalimantan.

Hubungan Banjar dan Demak telah terjalin dalam waktu yang lama, terutama dalam hubungan ekonomi perdagangan yang kemudian berlanjut dalam hubungan kemiliteran. Sultan Demak menyanggupi permintaan bala bantuan tersebut dengan syarat apabila menang, Pangeran Samudera dan pengikutnya mau memeluk agama Islam. Inilah awal dari penyebaran Islam secara terang-terangan yang dilakukan oleh Demak ke Kalimantan Selatan. Akhirnya, Pangeran Samudera berhasil mengalahkan Pangeran Tumenggung dan berhasil merebut Negara Daha dan pelabuhan Muara Bahan. Peristiwa ini terjadi pada 24 September 1526, yang kemudian diabadikan menjadi hari jadi Kota Banjarmasin.

Salah satu episode penting dalam proses Islamisasi di Kalimantan yang disebutkan dalam Hikayat Banjar adalah pembicaraan tentang hubungan Banjar dan Demak. Disebutkan dalam hikayat, bahwasanya Raja Banjar Raden Samudera telah ditasbihkan sebagai Sultan oleh Penghulu Demak dan oleh seorang Arab diberi gelar Sultan Suryanullah.

Penghulu Demak yang diutus untuk mengislamkan Pangeran Samudera dikenal dengan nama Khatib Dayan. Melihat dari jabatan kepenghuluan Demak, maka pada masa 1521-1524 penghulu Demak dipegang oleh Penghulu Rahmatullah (Ideham, 2003: 63). Dengan demikian, Khatib Dayan bukanlah seorang penghulu Demak, tetapi hanyalah seorang utusan dari penghulu Demak yang bertugas untuk mengIslamkan Pangeran Samudera dan seluruh pengikutnya di Banjarmasin.

KERAJAAN BANJAR DAN PERUBAHAN STRUKUR BIROKRASI

Setelah kemenangan Pangeran Samudera dalam peperangan melawan Pangeran Tumenggung, ia mengosongkan Negara Daha dan memindahkan semua penduduknya ke Banjarmasin. Hal ini dilakukan karena memandang dari segi ekonomis negara. Pelabuhan Muara Bahan yang terletak sekitar 40 km dari muara Sungai Barito dengan melewati banyak anak sungai yang berkelok-kelok tentunya sangat memakan waktu bagi para pedagang untuk menuju kesana. Berbeda halnya dengan pelabuhan Banjarmasin yang berada tepat di muara Sungai Barito. Hal inilah yang menjadi pertimbangan Pangeran Samudera atau yang dikenal dengan Sultan Surianysah untuk memindahkan ibukota kerajaan ke Banjarmasin. Inilah salah satu tanda awal berdirinya Kesultanan Banjar.

Banjarmasin dikenal sebagai sebuah kota pelabuhan di Kalimantan, dimana Sungai Barito menjadi merupakan urat nadi pelayaran sungai di daerah Kalimantan bagian Selatan tersebut. Lokasi kota ini berada dalam wilayah yang langsung menghadap ke Pulau Jawa, sehingga menjadikan kota ini termasuk dalam jaringan perdagangan Nusantara. Banjarmasin yang terletak tepat di daerah muara pesisir Sungai Barito menjadikannya sebagai tempat para pedagang dari berbagai jaringan penjuru Nusantara, bahkan jaringan internasional untuk berlabuh. Tidak dapat dipungkiri bahwa letak Banjarmasin yang sangat strategis tersebut menjadikannya salah satu pelabuhan transito Nusantara, sekaligus menjadi pintu gerbang utama untuk melakukan perdagangan ke daerah pedalaman Kalimantan yang dikenal dengan hasil buminya.

Pada masa kepemimpinan Sultan Suriansyah, struktur kepemimpinan yang sebelumnya mengacu pada Kerajaan Negara Daha yang identik dengan Hindu dirubah sesuai dengan tuntunan agama Islam. Beliau membuat struktur sebagai berikut: Mangkubumi, Mantri Pangiwa-Panganan, Mantri Jaksa, Tuan Panghulu, Tuan Khalifah, Khatib, Para Dipati dan Pra Pryai. Keputusan Sultan Surianyah ini merupakan suatu upaya untuk melakukan internalisasi agama Islam dalam struktur birokrasi Kerajaan Banjar.

Dalam struktur birokrasi yang baru ini, terdapat perbedaan perlakuan antara pembicaraan-pembicaraan mengenai hukum Islam dan hukum sekuler. Masalah yang menyangkut bidang agama Islam dibicarakan dalam suatu rapat/musyawarah yang terdiri dari Mangkubumi, Dipati, Jaksa, Khalifah dan Penghulu yang menjadi pemimpin dalam pembicaraan tersebut. Adapun masalah-masalah yang menyangkut hukum sekuler yang disebut hukum Dirgama, dibicarakan dalam rapat antara Raja, Mangkubumi, Dipati dan Jaksa yang menjadi pimpinan rapat. Adapun masalah yang menyangkut dengan tata urusan kerajaan merupakan pembicaraan antara Raja, Mangkubumi dan Dipati.

Dalam struktur birokrasi yang dibuat oleh Sultan Suriansyah tersebut kewenangan penghulu lebih tinggi dari Jaksa, sebab Penghulu mengurusi masalah yang menyangkut agama, sedangkan Jaksa mengurus masalah yang menyangkut dunia. Para Dipati, yang biasanya terdiri dari para saudara raja yang bertugas untk menemani dan membantu raja, kedudukan mereka terletak setelah Mangkubumi. Sistem politik dan pemerintah ini berlangsung sejak kepemimpinan Sultan Suriansyah sampai masa kepemimpinan Sultan Musta’in Billah pada permulaan abad ke-17.

PENUTUP

Proses Islamisasi Kalimantan Selatan dapat dibagi dalam tiga periode, yaitu masa kedatangan, masa penyebaran dan masa perkembangan. Masa kedatangan Islam di Kalimantan Selatan ditandai dengan terhubungnya jalur perdagangan Kalimantan dalam jaringan perdagangan Nusantara. Meskipun tidak diketahui secara pasti kapan masuknya Islam ke Kalimantan Selatan, tetapi dapat dipastikan bahwa Islam dapat masuk ke daerah tersebut dikarenakan adanya hubungan perdagangan Nusantara. Tidak menutup kemungkinan adanya para pedagang muslim diantara sekian banyak pedagang yang masuk ke Kalimantan Selatan yang pada masa itu masih di bawah pengaruh Kerajaan Hindu Negara Dipa dan Negara Daha.

Masa penyebaran Islam ditandai dengan permintaan bantuan Pangeran Samudera kepada Sultan Demak untuk membantu perlawanan terhadap Pangeran Tumenggung dalam perebutan tahta Kerajaan Negara Daha. Bantuan Sultan Demak tersebut dengan syarat masuk Islamnya Pangeran Samudera dan seluruh rakyatnya apabila dapat memetik kemenangan. Alhasil, Pangeran Samudera dapat merebut tahta Kerajaaan Negara Daha dan Penghulu Demak yang pada masa itu dijabat oleh Penghulu Rahmatullah mengutus Khatib Dayan untuk mengislamkan Pangeran Samudera dan seluruh pengikutnya. Pangeran Samudera diberi gelar Sultan Suryanullah.

Babak terakhir dalam proses Islamisasi di Kalimantan Selatan adalah internalisasi agama Islam dalam seluruh sendi kehidupan Kerajaan Banjar. Perubahan struktur birokrasi lama yang dipakai Kerajaan Negara Daha yang identik dengan Hindu dilakukan oleh Sultan Suriansyah. Raja pertama Kerajaan Banjar tersebut membuat struktur yang diisi oleh Mangkubumi, Mantri Pangiwa-Panganan, Mantri Jaksa, Tuan Panghulu, Tuan Khalifah, Khatib, Para Dipati dan Pra Pryai. Dalam struktur birokrasi tersebut diberlakukan perbedaan perlakuan antara masalah yang menyangkut agama Islam dan masalah yang menyangkut dengan hukum sekuler yang disebut hukum Dirgama. Sistem politik dan pemerintah ini berlangsung sejak kepemimpinan Sultan Suriansyah pada abad ke-16 sampai pada masa kepemimpinan Sultan Musta’in Billah pada permulaan abad ke-17.

Sumber :
Historical Studies Journal, Muhammad Azmi, Staf Pengajar Program Konsentrasi Pendidikan Sejarah Universitas Mulawarman

Selalu Terhubung

BALASAN

Silahkan tulis komentar anda
Masukkan nama anda di sini

Artikel Terkait

Hak atas Hasil Tanaman di atas Tanah Gadai

Assalamualaikum, Pak Kyai. Maaf, saya mau bertanya, ada orang yang menawari saya menggadaikan kebunnya, di atas kebun itu ada beberapa tanaman/pohon yang bisa diambil...

Istilah Tha’un dan Waba

Pemakaian kata “thaun” dan “waba’” sering dipertukarkan untuk menyebut wabah atau penyakit menular yang berjangkit dengan cepat, menyerang sejumlah besar orang di daerah yang...

Perbedaan Hadats dan Najis

Dalam istilah bersuci (thaharah), kita sering kali mengenal dua istilah, yakni hadats dan najis. Dua istilah ini memiliki implikasi yang berbeda sehingga kita harus...

Selalu Terhubung

21,132FansSuka
2,463PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Artikel Terbaru

Hak atas Hasil Tanaman di atas Tanah Gadai

Assalamualaikum, Pak Kyai. Maaf, saya mau bertanya, ada orang yang menawari saya menggadaikan kebunnya, di atas kebun itu ada beberapa tanaman/pohon yang bisa diambil...

Istilah Tha’un dan Waba

Pemakaian kata “thaun” dan “waba’” sering dipertukarkan untuk menyebut wabah atau penyakit menular yang berjangkit dengan cepat, menyerang sejumlah besar orang di daerah yang...

Perbedaan Hadats dan Najis

Dalam istilah bersuci (thaharah), kita sering kali mengenal dua istilah, yakni hadats dan najis. Dua istilah ini memiliki implikasi yang berbeda sehingga kita harus...

Apakah Tes Swab Membatalkan Puasa?

Assalamu ‘alaikum wr. wb. Redaksi NU Online, di samping rapid test, swab test atau tes swab dinilai efektif untuk menemukan infeksi virus corona atau Covid-19...

10 Dampak Buruk Handphone pada Anak

Smartphone atau gawai adalah alat komunikasi yang banyak digunakan oleh masyarakat saat ini. Melalui segenggam alat ini, semua hal dapat dilakukan. Mulai dari bertukar pesan...